Laman

Senin, 19 Oktober 2015

bahasa indonesia 2 tugas ke-2

PENGERTIAN METODE ILMIAH
Secara umum dan keseluruhan metode ilmiah atau proses ilmiah merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis. Ilmuwan melakukan pengamatan serta membentuk hipotesis dalam usahanya untuk menjelaskan fenomena alam. Prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis tersebut diuji dengan melakukan eksperimen. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali, hipotesis tersebut dapat menjadi suatu teori ilmiah.
Bagaimana menurut para ahli? Ini adalah beberapa pendapat para ahli diantaranya:
·         Menurut Almadk (1939),” metode ilmiah adalah cara menerapkan prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran.
·         Sedangkan Ostle (1975) berpendapat bahwa metode ilmiah adalah pengejaran terhadap sesuatu untuk memperoleh sesuatu interelasi

SIKAP ILMIAH
Istilah sikap dalam bahasa Inggris disebut “Attitude” sedangkan istilah attitude sendiri berasal dari bahasa latin yakni “Aptus” yang berarti keadaan siap secara mental yang bersifat untuk melakukan kegiatan. Triandis mendefenisikan sikap sebagai : “ An attitude ia an idea charged with emotion which predis poses a class of actions to aparcitular class of social situation” .
Rumusan di atas diartikan bahwa sikap mengandung tiga komponen yaitu komponen kognitif, komponen afektif dan komponen tingkah laku. Sikap selalu berkenaan dengan suatu obyek dan sikap terhadap obyek ini disertai dengan perasaan positif atau negatif. Secara umum dapat disimpulkan bahwa sikap adalah suatu kesiapan yang senantiasa cenderung untuk berprilaku atau bereaksi dengan cara tertentu bilamana diperhadapkan dengan suatu masalah atau obyek.
Menurut Baharuddin (1982:34) mengemukakan bahwa :”Sikap ilmiah pada dasarnya adalah sikap yang diperlihatkan oleh para Ilmuwan saat mereka melakukan kegiatan sebagai seorang ilmuwan. Dengan perkataan lain kecendrungan individu untuk bertindak atau berprilaku dalam memecahkan suatu masalah secara sistematis melalui langkah-langkah ilmiah.

Beberapa sikap ilmiah dikemukakan oleh Mukayat Brotowidjoyo (1985 :31-34) yang biasa dilakukan para ahli dalam menyelesaikan masalah berdasarkan metode ilmiah, antara lain :
1.     Rasa Ingin Tahu
Rasa ingin tahu merupakan awal atau dasar untuk melakukan penelitian-penelitian demi mendapatka sesuatu yang baru.
2.     Jujur
Dalam melakukan penelitian, seorangsainstis harus bersikap jujur, artinya selalu menerima kenyataan dari hasil penelitiannya dan tidak mengada-ada serta tidak boleh mengubah data hasil penelitiannya.
3.     Tekun
Tekun berarti tidak mudah putus asa. Dalam melakukan penelitian terhadap suatu masalah tidak boleh mudah putus asa. Seringkali dalam membuktikan suatu masalah, penelitian harus diulang-ulang untuk mendapatkan data yang akurat. Dengan data yang akurat maka kesimpulan yang didapat juga lebih akurat.
4.     Teliti
Teliti artinya bertindak hati-hati, tidak ceroboh. Dengan tindakan yang teliti dalam melakukan penelitian, akan mengurangi kesalahan-kesalahan sehingga menghasilkan data yang baik.
5.     Objektif
Objektif artinya sesuai dengan fakta yang ada. Artinya, hasil penelitian tidak boleh dipengaruhi perasaan pribadi. Semua yang dikemukakan harus berdasarkan fakta yang diperoleh. Sikap objektif didukung dengan sikap terbuka artinya mau menerima pendapat yang benar dari orang lain.
6.     Terbuka Menerima Pendapat Yang Benar
Artinya bahwa kita tidak boleh mengklaim diri kita yang paling benar atau paling
hebat. Kalau ada pendapat lain yang lebih benar/tepat, kita harus menerimanya.

Sumber :


Sabtu, 10 Oktober 2015

Tugas Softskill Bahasa Indonesia 2 tugas ke-1

Proporsisi
            Proposisi berarti data yang dapat dipercaya, disangsikan, disangkal, atau dibuktikan benar-tidaknya. Agar pembaca dapat menerima data secara benar maka data ini harus dirumuskan dalam kalimat berita yang netral. Proposisi ini terbangun karena adanya unsur yang disebut term. Term adalah kata atau kelompok kata yang dapat dijadikan subjek atau predikat dalam sebuah kalimat proposisi. Dengan demikian, proposisi adalah pernyataan tentang hubungan yang terdapat dalam subjek dan predikat.
Kalimat “Semua kaca bisa pecah” adalah sebuah bentuk proposisi, sedang kalimat“Semua kaca” dan “bisa pecah” adalah term.
Ø  Jenis-jenis Proposisi   
1.      Berdasarkan bentuk: Tunggal dan majemuk.
            Proposisi adalah pernyataan hubungan antara dua term. Jika proposisi hanya mengandung satu pernyataan, dinamai proposisi tunggal. Umpamanya: Semua manusia adalah mortal dan Sebagian manusia adalah tidak bijaksana.
            Jika proposisi mengandung lebih dari satu pernyataan, dinamai proposisi majemuk. Umpamanya: Mohammad Yamin adalah seorang ahli hukum dan sastrawan kenamaan. Proposisi ini sama dengan dua buah proposisi, yaitu: Mohammad Yamin adalah seorang ahli hukum dan Mohammad Yamin adalah seorang sastrawan kenamaan.
            Dengan demikian proposisi majemuk adalah proposisi yang terdiri lebih dari proposisi tunggal. Proposisi majemuk dibagi lagi atas majemuk kopulatif dan majemuk remotif.
2.      Berdasarkan Hubungan : Kategorial dan Kondisional
Proposisi Kategorial adalah proposisi dimana hubungan antara subyek dan predikatnya mempunyai syarat apapun. Contoh : Semua Perempuan di indonesia akan mengalami Menstruasi.
Setiap mengendarai mobil harus memakai seftybeld.
Proposisi kondisional adalah proposisi dimana hubungan antara subjek dan predikat membutuhkan syarat tertentu.
Contoh : Jika yogi lulus UN maka saya akan berikan hadiah.
Jika saya lulus penelitian ilmiah maka saya akan mengadakan syukuran.
3.      Berdasarkan kualitas: Afirmatif dan negatif.
            Proposisi afirmatif adalah yang kopulanya membenarkan adanya persesuaian antara subyek dan predikat. Misalnya: Manusia adalah mortal dan sebagian manusia tidaklah bijaksana.
Proposisi negatif adalah yang kopulanya menyatakan bahwa antara subyek dan predikat tidak ada hubungan. Misalnya: Semua gajah tidaklah semut dan semua manusia tidaklah bijaksana.
Dalam proposisi afirmatif, kopula selalu bersifat membenarkan, sedangkan dalam proposisi negatif, kopula mempunyai tanda negatif.
Dalam hal ini, anteseden tidak mempengaruhi sifat proposisi karena hanya mengandung syarat dan bukan menyatakan penghubungnnya. Untuk dikatakan hipotesis pun dalam hal ini tergantung pada sifat konsekuennya. Misalnya, jika konsekuen afirmatif, maka menjadi hipotesis. Umpanya:
Proposisi hipotesis afirmatif: Jika ia datang, saya akan pergi dan jika ia datang, saya akan pergi juga.
Proposisi hipotesis negatif: Jika ia pergi, saya tidak akan datang dan jika tidak turun hujan, sawah tidak akan jadi.
4.      Berdasarkan Kuantitas : Universal dan Khusus
            Berdasarkan kuantitasnya, proposisi dapat dibedakan ke dalam proposisi universal dan proposisi khusus. Pada proposisi universal, predikat membenarkan atau mengingkari seluruh subjek, yang perlu digarisbawahi di sini adalah kata seluruh tersebut, contohnya adalah kalimat “Semua yang belajar di perguruan tinggi adalah Mahasiswa.”. Kemudian pada proposisi khusus, predikat membenarkan atau mengingkari sebagian subjek, yang perlu digarisbawahi adalah kata sebagian tersebut, contohnya adalah kalimat “tidak satupun binatang di Taman Safati dibiarkan kelaparan.”
Ada beberapa kata-kata yang menjadi penanda sebuah proposisi universal, antara lain:
1)      Universal positif, semua, setiap, masing-masing, apapun
2)      Universal negatif, tidak satupun, tidak sedikitpun, tak seorangpun.
Sedang untuk proposisi khusus kata-kata yang menjadi penandanya antara lain:
1)      Universal positif, sebagian, beberapa, sering, kadang-kadang.
2)      Universal negatif, tidak semua, tidak seluruhnya.

5.      Berdasarkan isi (Import): Verbal dan real.
            Predikat proposisi verbal hanya menyatakan konotasi atau bagian dari konotasi subyek. Misalnya: Semua manusia adalah rasional.
            Predikat proposisi real hanya mengemukakan keterangan-keterangan tambahan berupa uraian konotasi subyek yang belum dikemukakan. Misalnya: Manusia adalah binatang yang berbudi.
Sumber