Pengaruh suku bunga terhadap nilai tukar
rupiah serta kondisi di Negara Asean
Perdagangan antar negara
dimana masing-masing Negara mempunyai alat tukarnya
sendiri mengharuskan adanya angka perbandingan nilai suatu mata
uang dengan mata uang lainnya, yang disebut kurs valuta asing atau kurs. Nilai tukar
terbagi atas nilai tukar nominal dan nilai tukar
rill. Nilai tukar yang naik-turun mengakibatkan terhambatnya
perkembangan dunia usaha terutama pada sector ekspor impor, dimana
untuk memperoleh bahan bakunya eksportir atau importir harus mendatangkan
barangnya dari luar negeri. Pergerakan
harga saham dipengaruhi beberapa faktor antara lain tingkat suku bunga dan
nilai tukar. Terdapat tiga variabel dari berbagai variabel pergerakan harga
saham yaitu variabel tingkat suku bunga, nilai tukar, dan harga saham. Tingkat suku bunga menentukan nilai
tambah mata uang suatu negara. Semakin tinggi suku bunga suatu mata uang, akan
semakin tinggi pula permintaan akan mata uang negara tersebut. Tingkat suku
bunga diatur oleh bank sentral, dan jika dalam jangka panjang bank sentral
selalu menaikkan suku bunga maka trend nilai tukar mata uang negara tersebut
terhadap negara lain akan cenderung naik. Hal ini akan terus berlangsung sampai
ada faktor lain yang mempengaruhi atau bank sentral kembali menurunkan suku
bunganya.
Diawal
tahun 2013 bank indonesia mematok suku bunga acuan (BI rate) sebesar 5,75%. Pada
tanggal 12 september 2013 bank indonesia kembali menaikan BI rate menjadi
7,25%. Keputusan BI menaikan suku bunga acuan diambil untik membantu menjaga
kurs mata uang rupiah agar tidak jatuh lagi karena suku bunga dalam rupiah jadi
lebih atraktif. Kebijakan ini juga sebagai bagian dari langkah bank sentral
dalam menekan defisit transaksi berjalan. Bank sentral juga memutuskan untuk
menaikan suku bunga Lending Facility
(LF) menjadi 7,25% dan suku bunga Deposit
Facility (DF) menjadi 5,5%.
Selama
Juli 2013, rupiah terdepresiasi sesuai dengan fundamentalnya. Perkembangan ini
dipengaruhi berlanjutnya kebutuhan impor di tengah ekspor yang melambat, serta
dampak reposisi kepemilikan non-residen di aset keuangan domestik. Secara
rata-rata, pada Juli 2013 rupiah melemah 1,95% (mtm) ke level Rp10.071 per
dolar AS dari Rp9.875 per dolar AS pada bulan sebelumnya. Sementara itu, secara
point-to-point, rupiah terdepresiasi 3,43% dan ditutup di level Rp10.278 per
dolar AS (Grafik 2.6). Pelemahan Rupiah disertai tingkat volatilitas yang
sedikit meningkat, namun tetap terkendali.
Tabel : Nilai Tukar Negara ASEAN
Terhadap USD, Tahun 2009-2013 (yoy,dalam %)
Nilai Tukar Mata Uang Negara ASEAN
Cenderung Melemah
|
COUNTRIES
|
2009
|
2010
|
2011
|
2012
|
30/08/2013
|
|
Brunei Darussalam
|
4,2
|
8
|
0
|
4,7
|
-3,3
|
|
Combodia
|
-2,2
|
0,8
|
0,3
|
1,8
|
-1,8
|
|
Indonesia
|
14
|
5,8
|
0,4
|
-8,7
|
-13,3
|
|
Lao PDR
|
-0,1
|
3,5
|
0,6
|
1,8
|
0,4
|
|
Malaysia
|
0,6
|
9,2
|
-3,3
|
4,4
|
-8,9
|
|
Myanmar
|
0,3
|
0,2
|
0,5
|
-13360
|
-12,8
|
|
Philippines
|
1,4
|
5,7
|
0,1
|
7,1
|
-9,4
|
|
Singapora
|
3,5
|
8,6
|
-0,8
|
5,4
|
-4,1
|
|
Thailand
|
4,5
|
9,3
|
-6,3
|
4,3
|
-5,7
|
|
Viet Nam
|
6,7
|
-5,7
|
-8
|
2,1
|
-2,5
|
Catatan : 2013 = 30 Agustus 2013
Myanmar
pada tahun 2012 mengalami penyesuaian mata uang
Anggota
ASEAN mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (USD). Pelemahan mata
uang terutama pada negara-negara utama ASEAN (ASEAN-5) seperti Indonesia dan
Malaysia akan memberikan dampak pada ekonomi ASEAN secara keseluruhan.
Gama
Leading Economic Indicator meramalkan
tren pemburukan ekonomi Indonesia masih akan berlanjut. Ekonomi Indonesia dalam
situasi krisis pada saat ini. Instabilitas makro jika terus berlangsung bahkan
meningkat, bisa menyeret ekonomi Indonesia masuk krisis lagi. Namun demikian
jika otoritas ekonomi bisa segera menstabilkan ekonomi makro sehingga laju
pertumbukan ekonomi bisa meningkat lagi maka Indonesia bisa selamat. Oleh karena
itu, diharapkan otoritas ekonomi bisa mengambil kebijakan yang tepat dengan
cepat untuk mengatasi instabilitas ekonomi makro yang terjadi.
Sumber :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar