Laman

Selasa, 27 Mei 2014

Pengaruh suku bunga terhadap nilai tukar rupiah serta kondisi di Negara Asean


Pengaruh suku bunga terhadap nilai tukar rupiah serta kondisi di Negara Asean

Perdagangan antar negara dimana masing-masing  Negara  mempunyai  alat  tukarnya  sendiri mengharuskan adanya angka perbandingan  nilai suatu mata uang dengan mata uang lainnya, yang disebut kurs valuta asing atau kurs. Nilai tukar  terbagi  atas nilai  tukar nominal dan nilai tukar rill. Nilai tukar yang naik-turun  mengakibatkan  terhambatnya  perkembangan dunia usaha terutama pada sector ekspor impor, dimana untuk memperoleh bahan bakunya eksportir atau importir harus mendatangkan barangnya dari luar negeri. Pergerakan harga saham dipengaruhi beberapa faktor antara lain tingkat suku bunga dan nilai tukar. Terdapat tiga variabel dari berbagai variabel pergerakan harga saham yaitu variabel tingkat suku bunga, nilai tukar, dan harga saham. Tingkat suku bunga menentukan nilai tambah mata uang suatu negara. Semakin tinggi suku bunga suatu mata uang, akan semakin tinggi pula permintaan akan mata uang negara tersebut. Tingkat suku bunga diatur oleh bank sentral, dan jika dalam jangka panjang bank sentral selalu menaikkan suku bunga maka trend nilai tukar mata uang negara tersebut terhadap negara lain akan cenderung naik. Hal ini akan terus berlangsung sampai ada faktor lain yang mempengaruhi atau bank sentral kembali menurunkan suku bunganya.
Diawal tahun 2013 bank indonesia mematok suku bunga acuan (BI rate) sebesar 5,75%. Pada tanggal 12 september 2013 bank indonesia kembali menaikan BI rate menjadi 7,25%. Keputusan BI menaikan suku bunga acuan diambil untik membantu menjaga kurs mata uang rupiah agar tidak jatuh lagi karena suku bunga dalam rupiah jadi lebih atraktif. Kebijakan ini juga sebagai bagian dari langkah bank sentral dalam menekan defisit transaksi berjalan. Bank sentral juga memutuskan untuk menaikan suku bunga Lending Facility (LF) menjadi 7,25% dan suku bunga Deposit Facility (DF) menjadi 5,5%.
Selama Juli 2013, rupiah terdepresiasi sesuai dengan fundamentalnya. Perkembangan ini dipengaruhi berlanjutnya kebutuhan impor di tengah ekspor yang melambat, serta dampak reposisi kepemilikan non-residen di aset keuangan domestik. Secara rata-rata, pada Juli 2013 rupiah melemah 1,95% (mtm) ke level Rp10.071 per dolar AS dari Rp9.875 per dolar AS pada bulan sebelumnya. Sementara itu, secara point-to-point, rupiah terdepresiasi 3,43% dan ditutup di level Rp10.278 per dolar AS (Grafik 2.6). Pelemahan Rupiah disertai tingkat volatilitas yang sedikit meningkat, namun tetap terkendali.
 Tanda-tanda instabilitas ekonomi dinegara ASEAN juga terekam pada aktivitas di pasar saham maupun nilai tukar mata uang. Pasca Krisis Keuangan Global 2008-2009, terlihat bahwa hampir semua negara anggota mengalami pertumbuhan pada harga-harga saham hingga tahun 2012. Namun, hingga transaksi per-30 Agustus 2013 terdapat 7 dari 10 negara ASEAN mengalami penurunan pertumbuhan harga saham yang menunjukan bahwa adanya kecenderungan keluarnya arus modal para investor dari negara-negara ASEAN akibat ekonomi Amerika Serikat mengirimkan sinyal perbaikan ekonomi serta antisipasi kebijakan tapering the fed sementara persepsi para pelaku bisnis terhadap ekonomi ASEAN tidak terlalu baik. Ketersediaan modal yang mengering diiringi dengan neraca pembayaran yang mengalamindefisit dibeberapa negara mendorong terjadinya juga pelemahan pada nilai tukar mata uang tercatat hingga 30 Agustus 2013, seluruh mata uang negara.

Tabel : Nilai Tukar Negara ASEAN Terhadap USD, Tahun 2009-2013 (yoy,dalam %)
Nilai Tukar Mata Uang Negara ASEAN Cenderung Melemah

COUNTRIES
2009
2010
2011
2012
30/08/2013
Brunei Darussalam
4,2
8
0
4,7
-3,3
Combodia
-2,2
0,8
0,3
1,8
-1,8
Indonesia
14
5,8
0,4
-8,7
-13,3
Lao PDR
-0,1
3,5
0,6
1,8
0,4
Malaysia
0,6
9,2
-3,3
4,4
-8,9
Myanmar
0,3
0,2
0,5
-13360
-12,8
Philippines
1,4
5,7
0,1
7,1
-9,4
Singapora
3,5
8,6
-0,8
5,4
-4,1
Thailand
4,5
9,3
-6,3
4,3
-5,7
Viet Nam
6,7
-5,7
-8
2,1
-2,5

Catatan : 2013 = 30 Agustus 2013
            Myanmar pada tahun 2012 mengalami penyesuaian mata uang

Anggota ASEAN mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (USD). Pelemahan mata uang terutama pada negara-negara utama ASEAN (ASEAN-5) seperti Indonesia dan Malaysia akan memberikan dampak pada ekonomi ASEAN secara keseluruhan.
Gama Leading Economic Indicator meramalkan tren pemburukan ekonomi Indonesia masih akan berlanjut. Ekonomi Indonesia dalam situasi krisis pada saat ini. Instabilitas makro jika terus berlangsung bahkan meningkat, bisa menyeret ekonomi Indonesia masuk krisis lagi. Namun demikian jika otoritas ekonomi bisa segera menstabilkan ekonomi makro sehingga laju pertumbukan ekonomi bisa meningkat lagi maka Indonesia bisa selamat. Oleh karena itu, diharapkan otoritas ekonomi bisa mengambil kebijakan yang tepat dengan cepat untuk mengatasi instabilitas ekonomi makro yang terjadi.

Sumber :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar